Reka ulang kejadian :

Drg. Nono: Setelah kami melakukan rapat sejenak, maka kami para dosen penguji, dengan ini menyatakan, anda, saudara Aditya Hayu, eh siapa nama panggilannya?

Saya: Chacha, Dok.

Prof. Anita: Hah? Cacat?

Saya: *terbelalak kaget* Oh bukan, Prof. Maksud saya Chacha.

Drg. Nono: Cacat ya?

Saya: Chacha, Dok.

Drg. Nono: Iya. Saudara Aditya Hayu *terus gunanya tanya apa*, kami nyatakan lulus sidang skripsi ini. Tapi dengan disertai perbaikan. Nggak apa-apa ya?

Saya: Oh ya jelas nggak apa-apa Dok. Terimakasih. *dengan muka yang datar*

Drg. Nono: Iya. Selamat saudara lulus sidang ini.

Saya: Terimakasih, dok. *muka masih datar*

–setelah semua penguji sidang keluar–

Prof. Anita: Haduh akhirnya.. Saya nggak punya tanggungan membimbing kamu lagi. Selamat ya sudah lulus. *wajah berseri-seri, menyalami saya*

Saya: Oh. Terimakasih Prof. *wajah sedatar TV plasma*

Prof. Anita: Kamu nggak lega ta sudah selesai sidang?

Saya: Oh. *jeda sedetik* Lega Prof.

Prof. Anita: Kan paling tidak bebanmu sudah berkurang satu.

Saya: Oh. Iya. Benar Prof. *wajah tetap datar, senyum tetap palsu*

Hahaha. Itulah gambaran mahasiswa yang sudah pernah menghadapi ngerinya ujian-ujian profesi bila dibandingkan dengan ujian skripsi. Sebetulnya lega, tapi… ya sudah.

Alhamdulillah, akhirnya semua jam-jam penantian di bangku di depan ruang dosen Orto terbayar tunai. Dengan sedikit revisi yang sampai sekarang juga belum saya kerjakan.

Selayaknya bintang film penerima piala Oscar, saya juga mau berterimakasih di sini karena dua lembar ucapan terimakasih di skripsi saya terasa terlalu palsu. Dan disinilah saya. Di depan laptop, menyalakan iTunes, dengan hati seringan bulu, berterimakasih.

–Kepada Allah SWT. Yang bisa membuat segala sesuatu menjadi mungkin. Sang Maha Tahu yang selalu tahu apa yang baik untuk saya dan Prof. Anita adalah salah satunya.

–Kedua orangtua saya. Yang tidak pernah lelah memberi kesempatan kedua. Ayah saya yang pemaaf dan lapang dada. Ibu saya yang cerdas dan kadang rumit.

–Kedua adik saya. Yang tahan punya kakak seperti saya.

–Prof. Anita. Terimakasih atas ratusan jam yang beliau habiskan untuk membaca, mencoret, memperbaiki draft skripsi saya.

–Drg. Elly. Yang sudi saya gedor pintu rumahnya sehari setelah Lebaran.

— Sdri. Anindita ZR, drg,. SHAWOL. Yang membantu saya ini dan itu. Terutama saat membuat sampel, menerjemahkan jurnal, abstrak. Tempat curhat hal ilmiah sampai belajar ice-skating.

–Sdri. Sinta CW, drg. Yang sudi dijemput saat tengah mengeringkan rambut untuk menemani saya ambil kue untuk sidang skripsi.

–Sdri. Tabita K, drg. dan Sdri. Gigih R yang meluangkan waktu untuk menyemangati dan menemani sidang saya. I love you like a love song, baby!

–Geng Ayam (Princi, Cece, Eska, Qoqo, Vievie). Yang telah berteman dengan saya selama lima tahun terakhir ini.

–Kedua adik kelas, Dian DP dan Ratih MS. Teman dengan nasib serupa. Semoga kalian dimudahkan dalam sidang!

–Dan semua fihak yang tidak termasuk dalam Top Ten list saya. Percayalah, saya mengingat segala kemurah hatian kalian. Terimakasih. Tanpa kalian saya tidak akan menjadi seperti ini. *lagak sinetron RCTI jam 7 malam*

–Oh ya! Last but not least, terimakasih kepada saudara-saudara saya di Korea yang bernama Running Man, yang saya jejalkan di dalam iPod. Yang selalu menemani saya melewati jam-jam panjang penantian saya untuk menemui Prof. Anita.

Terakhir, sebenarnya saya mau bilang ke Prof. Anita sehubungan dengan tangan saya yang selalu melambai saat presentasi. “Hey, itu gesture yang terjadi diluar kesadaran, Prof. Sama seperti Lee Gwang Soo yang membungkuk saat minta maaf, itu gesture.”

Demikian. Atas segala kesalahan pemilihan kata dan tata cara penulisan yang saya lakukan di atas, saya mohon maaf. Sekali lagi, terimakassssiiiihhh!

Advertisements