Dear Remi,

Maaf karena saya kamu jadi sakit. Teman macam apa saya ini. Seharusnya sayalah yang paling mengerti kamu. Tapi sekarang malah saya sendiri yang tidak bisa merawat kamu.

Katakan, bagaimana rasanya? Apakah seperti demam? Pegal-pegal di badan, pusing di kepala? Kamu harus tahu, saya juga ikut merasa sakit. Tapi sakit saya di hati, bukan di kepala.

Kamu mata ketiga dan keempat saya. Teman duapuluh empat jam saya. Tempat sampah nomer satu saya. Karena cuma kamu yang selalu ada, yang tidak pernah berkata, “Tidak” atau bahkan, “Nanti”.

Sebentar lagi ulang tahun kedua kita. 10 Agustus 2009. Saya-Kamu.

Ayolah saya harus apa? Dulu kamu juga pernah sakit serupa. Setahun yang lalu. Sejak itu saya tidak pernah berhenti berhati-hati. Tapi toh sekarang kamu sakit lagi. Karena saya.

Kamu harus saya bawa ke dokter. Ke rumah sakit. Biar isi kepalamu diganti dengan yang baru. Yang bersih. Nanti sepulang dari sana, kita jalan-jalan. Membeli topi kevlar buat kamu. Supaya isi kepalamu aman. Biar kamu tidak sakit lagi.

Cepat sembuh ya. Aku sayang kamu. Lebih daripada PSP dan iPod-ku.

P.S. Tapi aku lebih sayang Francis.

P.P.S. Hanya lebih sedikit. Bahkan bedanya tipis.

#Remi — laptop saya

 

 

Advertisements