Rasanya Malang menjadi obat sakit hati yang ampuh bagi saya saat galau dengan keadaan kampus yang serba gedubrakan.

Jalan-jalannya yang geje dan susah dihafalkan, kafe-kafenya, tempat makan di pinggir jalan yang bersih, murah dan enak, hawa malam hari yang dingin, jajanan yang tidak lazim saya temui di surabaya, dan yang terakhir adalah cowok yang ganteng-ganteng.

Setiap tahun Malang mengadakan acara bernama Malang Tempo Doeloe yang kalau tidak salah sudah tiga kali ini diadakan. Tempatnya selalu sama, di jalan Ijen yang asri, dimana kanan kirinya berisi rumah-rumah bagus yang bikin ngowoh.

Menurut saya, acaranya ya so-so lah. Tumpah ruah ga karuan. Efek ditutupnya jalan Ijen ini sampai terasa hingga jalan Soekarno Hatta. Ah heboh sekali lah tanggapan masyarakat Malang dan kota lain di sekitarnya.

Di acara yang sangat tempoh doeloe ini, makanan yang pertama kali saya makan adalah es tusuk merang. Tergiur dengan warna pink nya? Berdoalah semoga bukan pewarna tekstil yang dipakai.

Kemudian ada es puter dengan harga 5K yang yaah enak lah. Setelah mata jelalatan liat barang-barang tempo doeloe dan kaki pegel setelah nyopir kebanyakan setengah kopling.

Lalu ada tebu tusuk. Yes, daripada mengunyah tembakau atau inang, lebih baik kita mengunyah tebu. Tapi jangan lupa gosok gigiΒ  setelah itu *tetep iklan*.

Kata teman saya, sang Menteri Sejarah dan Kebudayaan kota Solo, di sana terasa seperti pasar loak. Hahaha. Ya bener juga sih, karena pamerannya *atau entah dijual* berisi benda-benda tua. I found some was unique, while the others not. Ya seperti gesper-gesper dan koper-koper dibawah ini.

Oh ya, ada juga gulali modifikasi. Tidak melulu hanya gulali bertabur wijen, yang satu ini ditambahi kacang tanah dan jahe. Nyam ~~

Di jalan Soekarno-Hatta saya menemukan kedai *ihiy* okonomiyaki. Letaknya di sebelah kiri jalan di halaman kafe Willy`s. Kami beli yang seafudo dengan topping cumi, udang, nori, katsuuboshi *bener ga sih?* saus BBQ, dan mayones. Harganya 15ribu dan memuaskan.

Sebelum pulang, kami makan malam di Aquanos. Yak! Pilihan yang tidak tepat karena tidak mencerminkan kota Malang sama sekali. Hahaha. Sudah lampunya merah-biru dan remang-remang, menunya sedikit, kamar mandinya pesing, musiknya jadak jeduk lagi. Kejeglong cak!

Advertisements