Dengan sangat mengejutkan dan tanpa kabar berita, pompa air saya mati. Hal ini untungnya terjadi kemarin ketika saya selesai mandi. Kalau tidak, bisa-bisa saya mandi di tandon di carport deh.

Jadi mekanisme distribusi air di rumah saya yang hi-tech ini adalah pertama air PDAM ditampung di tandon yang letaknya di carport teras rumah saya. Kemudian air yang sudah tertampung ini dinaikkan oleh pompa otomatis menuju ke tandon kedua yang letaknya di lantai tiga. Dari sinilah air kemudian disalurkan secara merata ke tiap keran di rumah saya tanpa pilih kasih. Nah, MCB *Mother Cord Board–ngawur* di rumah saya ini terdiri dari beberapa partisi. Si pompa ini mendapat nomer urutan MCB 7, dan waktu itu MCB-nya njeglek kebawah nggak bisa dinaikin.

Pada saat saya hampir selesai mandi saya mendapati sebuah kejanggalan, yaitu air yang mengalir di shower mengecil — oiya saya lupa bilang, di kamar mandi saya yang modern dan terletak di lantai 2 ini cuma ada shower, kran wudhu, ember, dan kloset. Sumpah awalnya saya merasa kalau peristiwa turunnya debit air itu cuma halusinasi dan saya melanjutkan mandi dengan sangat heboh dan membuang-buang air. Selesai mandi saya baru membatin, Ini sungguh-sungguh nyata terjadi! Dan saya baru sadar diri untuk kemudian menyikat gigi pakai air aqua.

Si embak yang berdomisili di lantai bawah sedang tidak beruntung. Dia baru akan mandi setelah saya selesai mandi *seringai keji*. Jadi ketika saya sudah cantik pakai jilbab pink mau berangkat ke kampus dia masih semwrawut dan heboh mencari air.

Itu kemarin, bagaimana dengan hari ini?

Pagi-pagi saya sudah menimba air di tandon, menaikkannya dengan ember, satu-satu untuk mengisi ember yang lebih besar lagi di kamar mandi saya — di lantai dua, dengan tangga yang terjal, by the way. Untungnya jelek-jelek begini saya ini pintar menimba air di sumur tandon. Berbekal pengalaman saya selama KKN di Sidoarjo, dengan jumawa saya menimba air pakai keahlian tingkat tinggi. Nah yang jadi masalah adalah mengangkut air tadi ke atas. Mak! Akan tetapi nasi goreng Janc*k yang saya makan kemarin rupanya masih berperan dalam membakar semangat saya. Hihihi.

sungguh, pompa air mati itu rasanya setengah mati

Saran saya kepada pembaca yang mengalami peristiwa yang sama, atau bahkan lebih mengenaskan dari saya adalah:

1. Jadilah member fitness center. Selain kita jadi terlatih buat mengangkat barang berat, kita juga bisa numpang mandi disana kalau air di rumah kita mati *saya mungkin akan melakukan hal ini nanti sore*

2. Sedia ember besar sebelum pompa air mati. Ember kecil-kecil seperti punya saya sungguh sangat mengkhawatirkan.

3. Selalu bangun pagi tiap hari dan bersiap lebih pagi. Karena Allah selalu bersama orang-orang yang memulai pekerjaannya pagi-pagi. Nggak bohong nih. Hal ini sudah terjadi berulangkali pada saya. Lihat saja keadaan si Embak yang memulai ritual mandi lebih siang dari saya.

4. Hargai air. Mungkin ini peringatan dari Tuhan buat saya. Supaya saya bisa merasakan indahnya hidup bila ada air dan mulesnya perut pas kebelet pup tapi harus ngangsu air dulu.

Sekian dari saya, permisi saya mau pasang koyo cabe dulu.

Advertisements