Lagi-lagi saya dan teman saya pergi ke Tunjungan Plaza. Alasannya, saya mau beli celana pendek ATAU sepatu ATAU earphone yang lagi-lagi jebol karena kebanyakan dipakai.

Tetapi… Seperti yang sudah-sudah, hasil akhirnya sangat melenceng dari tujuan semula. Akhirnya saya malah makan, makan, dan makan. Ronde pertama diresmikan oleh coklat Delfi. Saya lupa varian apa tapi isinya coklat, biskuit dan kismis. Rasanya enak dan nggak eneg, mungkin karena ada kismisnya jadi rasanya ada asem-asem sehingga nggak terlalu manis.

Terus saya cabuts ke Sour Sally untuk pertama kalinya, wahai para manusia yang sedang membaca tulisan ini. Saya penasaran, soalnya tempat itu konstan selalu ramai pembeli padahal froyo udah nggak se-booming dulu. Teman saya yang nggak doyan susu sampai level dewa pun mengaku suka makan Sour Sally. Saya beli dan makan. Ternyata… rasanya biasa aja. Tapi dengan jarum yang mulai menunjuk ke arah “nggak suka” pada sumbu x dan jarum yang menunjuk ke arah “kurang sreg” pada sumbu Y. Saya merasa yoghurtnya dek Sally kurang asem dan terlalu ringan. Dan terlalu mahal. Ya Tuhan, mahal sekali gaya hidup sehat bernama frozen-yoghurt-non-fat itu. Apa mungkin karena saya beli yang rasa taro-pink ya?

Setelahnya destinasi saya *arep nang endi mbak?* adalah Penang Village. Saya pesan nasi kerabu pakai beef curry *karena sekali lagi, saya tidak makan daging ayam*, dan “teman” saya pesan nasi lemak dengan ayam percik. Kare-nya tidak setajam versi India dan dagingnya empuk. Dan tahukah saudara-saudara, ayam percik adalah ayam bakar. Ya ampun, kenapa namanya heboh sekali sih?

Makanan Malaysia selama ini selalu saya kenang akan keragaman jenis nasinya. Nasi lemak, nasi biryani, nasi kerabu, dan nasi hujan panas *eh apa panas dingin ya?*. Nasi hujan panas tadi berwarna merah dan hijau dan nasi kerabu berwarna abu-abu. Ah ada nggak ya nasi yang warnanya biru?

Dua porsi makanan ditambah dua gelas es teh harganya Rp. 78.760,-

Matek cak larange. Dan saya masih lapar.

Advertisements