Di kampus saya, Universitas Airlangga Surabaya, setiap mahasiswa FKG pasti harus mencari pasien untuk memenuhi requirement kerja klinik. Hal itu sudah saya lakukan sejak saya masih duduk di bangku semester lima.

Cari pasien dimana?

Macam-macam, dari status Facebook, Twitter, SMS, tetangga, berkeliling gang seperti sales panci, dan yang terakhir melalui calo. Oya, yang paling ekstrim adalah dengan “membuat” sendiri. Semua cara rasanya akan ditempuh oleh mahasiswa untuk mendapatkan pasien dan segera keluar dari belitan klinik yang membuat stress setengah mati.

Yang paling membuat putus asa adalah ketika orang yang kita ajak memandang sebelah mata kepada pertolongan kita.

Bayangkan, di saat kita sangat membutuhkan, saat kita datang (kadang setengah memohon) untuk menawari merawat gigi, tidak sedikit orang yang mencibir (terutama teman saya sendiri).

Kata-kata yang seringkali muncul adalah, “Gamau! Ntar dijadikan kelinci percobaan!”

Aih sombong sekali kau nak!!

Saya punya teman yang sedang kuliah di Teknik Mesin ITS Surabaya. Nah di depan kampusnya kan ada bengkel motor tuh. Kalau seumpama saja mereka diberi requirement yang levelnya terus naik seperti semester ini memperbaiki 5 buah mobil Kijang, semester depan 3 buah mobil Mercedez Benz dan Jaguar. Dan semester terakhir untuk kasus sulit yang jarang ditemukan (kalau di FKG berupa endo onlay) harus memperbaiki 2 buah mobil Lamborghini dan 1 buah Hummer.

Coret saja requirement yang susah-susah, meski begitu tetap saja bikin pantat rata dan udel copot kalau setiap orang yang ditanyai bilang,

“Aduh jangan, nanti mobil saya kalian jadikan kelinci percobaan.”

Maksud kali baik, membantu. Kami juga berusaha bekerja profesional. Mungkin ada beberapa hal yang masih belum terampil kami lakukan. Tetapi kami juga mengejar nilai dan menghindari kondite. Jadi seumpama hasil kerja kami tidak bagus, percayalah, nilai kami juga jelek.

Advertisements