Semester ini saya merasa sangat “kepenuhan” sekali. Definisi operasional dari “kepenuhan” di sini adalah terlalu banyaknya tuntutan hidup tanpa diimbangi dengan gairah hidup untuk memenuhi itu semua.

Mungkin banyak orang menjalani hidupnya dengan prinsip mengalir bagai air. Bagi saya (saat ini, entah besok) hal itu nyaris nonsense. Dalam hidup, manusia harus memiliki target, planning, deadline, sikap tidak mudah putus asa dan terus bangkit ketika jatuh. Kemudian ada variabel tidak langsung berupa memiliki semangat hidup dan kemampuan mengeliminasi stress. Jangan lupa atas segalanya ada faktor ibadah.

Tapi ada kalanya juga kita berlaku seperti air, melepaskan dengan ikhlas sesuatu yang sudah lama kita perjuangkan atau kita miliki. Itulah makanya mengapa saya bilang hampir nonsense di atas.

Kemudian saya menganalisa hidup saya dalam semester ini. Berantakan. B e r a n t a k a n . Entah kenapa tiba-tiba saya jadi pemalas, yang biasanya suka euforia totok jadi pendiam. Dan saya harus akui saya jadi kehilangan semangat hidup. Im being a pesimistic-and-so-sick-and-tired-of my-life girl! Yang terparah adalah saya jadi kehilangan kontrol terhadap diri saya dan kehidupan saya.

Di sinilah saya tahu berarti hidup saya belum ada target, planning, dan deadline. Yang saya lakukan selama ini cuma mengikuti alur perkuliahan saja. Pattern di kepala saya, kuliah ya kuliah, klinik ya klinik. Kalau lulus semua ya wajar lah, kan saya sudah berusaha. Kalau ada yang tidak lulus ya tidak usah dipikir terlalu berat. Let it flow, kan bisa diulang semester depan. Lagipula saya kan belum tahu mau bekerja dimana.

SEHARUSNYA

Saya harus lulus precisely lima tahun. Saya harus terus berlari untuk mengejar deadline lulus tepat waktu itu. Dengan segala cara kalau perlu. Tahun depan saya harus menikah. Kemudian saya harus ikut PTT dan mendaftar jadi Pegawai Negri sambil membuka usaha percetakan. Oke yang bagian percetakannya masih belum terlalu yakin. Tapi saya yakin di bagian menikahnya. Hahahaa..

Soal semangat hidup ternyata cukup memiliki dampak dalam kehidupan saya yang kurang luar biasa semester ini.  Sekarang bagaimana kita bisa melibas semua hambatan kita untuk memenuhi target bila kita tidak sedang membara? Hahaha. Kalau yang ini saya belum sampai level bisa mengatasi.

Saya akui saya menderita stress kronis yang berujung pada depresi yang menyebabkan hilangnya semangat hidup. Saya juga sebenarnya tahu kalau stress itu harus dimanajemen dengan baik agar tidak bermanifestasi pada sikap sehari-hari. Tapi saya juga belum bisa mengatasi hal yang satu ini.

Berulangkali sudah saya menonton film Evan Almighty dan selalu merasa tertohok dengan kalimat ini:

Let me ask you something. If someone prays for patience, you think God gives them patience? Or does he give them the opportunity to be patient? If he prayed for courage, does God give him courage, or does he give him opportunities to be courageous? If someone prayed for the family to be closer, do you think God zaps them with warm fuzzy feelings, or does he give them opportunities to love each other?

Ya saya merasa banyak sekali kesempatan yang sudah saya sia-siakan, bahkan setelah Tuhan memberikan saya kesempatan kedua.

Advertisements