Rasanya duapuluh empat jam dalam sehari tidak cukup untuk menuntaskan masalah kuliah saya. Sebagai mahasiswi semester IX Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga yang tengah menempuh profesi dan belum menuntaskan skripsi, saya merasa bosan akan hidup saya sehari-hari. Dan saya juga merasa muak dengan diri saya sendiri.

Requirement dan deadline klinik, pasien yang tidak ada, pasien yang tidak mengalami progress dalam perawatannya, manajemen waktu dan pasien yang mahasulit, dokter yang tidak solutif, skripsi yang terbengkalai. Ah!

Bahkan teman saya Agita yang sejak jaman sapi makan beling kliniknya paling maju saja kepingin membenturkan kepalanya ke tembok waktu saya tanyai tadi.

Sungguh saya tidak ingin mengeluh, saya ingin bertanggung jawab atas pilihan jurusan saya, saya ingin bersemangat juang 45 membabat habis semua tantangan dan halangan di depan saya. Tapi waktu pasien saya tidak datang, apa yang saya bisa lakukan? NOL. Waktu saluran akar molar tak kunjung ditemukan, saya bisa apa? KOSONG.

Saya lelah.

Klinik dan skripsi ini menghantui tidur saya setiap malam.

Sudah satu minggu ini saya sakit kepala dan tidak bisa tidur nyenyak.

Uang saya habis untuk pasien yang bahkan tidak kooperatif serta tidak mengalami kemajuan tahapan perawatan (saluran akar buntu, anastesi tidak jalan, gigi tak kunjung non-vital, dokter pembimbing tidak hadir).

Aww.. Baru ingat! Senin 2 minggu lagi saya ujian profesi Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat. Awal bulan depan saya Analisa Kasus klinik Konservasi Gigi (padahal pasien saya belum ada yang tuntas perawatannya). Awal Januari deadline klinik. Padahal saya belum sekallipun menyentuh pekerjaan GTL, GTSL, fullcast, serta piranti orto. Dor! Dor! Dor!

 

Advertisements