Sudah 7 tahun saya menjadi bagian dari kota ini. Saya suka tinggal di sini. Meskipun panas, macet, banyak motor, bemo, becak, perbaikan jalan, debu, nyamuk. Ah kalau dirinci kekurangannya nggak bakal selesai ditulis seharian. Tapi saya tetap cinta Surabaya. Sebulan tidak tinggal di sini rasanya bagaikan makan sayur tanpa daun.

Mengapa?

Pertama. Karena mobil saya ada di sini. Simple, but if someone asked me, its gonna be my very first answer.

Kedua. Karena Surabaya selalu “hidup” hingga tengah malam lewat. Surabaya is sophisticated and sparkling!

Ketiga. Karena Surabaya dengan caranya yang sangat kejam telah mengajari saya tentang bekerja keras, berfikir cepat, cerdik, bekerja di bawah tekanan, dan hidup mandiri. Di kota ini, di bawah keadaan yang menekan, saya baru bisa menarik kesimpulan hidup. Berusaha, berdoa, bersabar, ikhlas, dan bersyukur. Satu lagi, memaafkan. Tapi saya juga baru bisa menguasai ilmu sabar dan ikhlas itu di semester kemarin. Itu pun hanya beda tipis dengan sikap peduli-setan. Hahahaa.. Saya juga belajar untuk tidak menilai orang (pria khususnya) hanya dari sampul luarnya.

Keempat. Karena Surabaya mempunyai banyak mall. Lupakan tentang konsumerisme dan kapitalisme. Toh saya hanya menikmati mall karena fungsi one stop place-nya ditambah dengan dinginnya AC dan tempat parkir yang tidak terpapar sinar matahari secara langsung. Makan, nonton, jalan-jalan, cuci mata, beli baju, beli buku, beli alat rumah tangga, beli sepatu semua bisa dilakukan. Oke, mulai kedengaran jadi konsumerisme kalau dilihat dari sini. Hahaa..

Kelima. Karena beberapa tempat di Surabaya memiliki lampu-lampu yang indah.

Keenam. Karena saya sering menemukan macam-macam mobil bagus di sini. I`ve seen Ferrari in Surabaya!

Ketujuh. Karena saya bisa menemukan hampir segala jenis barang yang saya perlukan. Mulai dari fotokopi hitam-putih sampai cetak baliho. Dari radio player hingga iPod. Semua ada. Semua dijual.

Kedelapan. Karena banyak tempat dan kegiatan yang bisa dijadikan pelampiasan. Berenang, yoga, membaca, makan, main game, bersepeda.

Kesembilan. Karena banyak makanan enak meskipun tidak khas. Meskipun beberapa mahal. Meskipun beberapa mengandung babi.

Kesepuluh. Karena terlalu banyak kenangan yang ada di kota ini. Terlalu banyak  monumen sentimental moment yang saya punya di kota ini. Hingga kota ini jadi terlalu kompleks bagi saya. Semua saya alami di sini. Kegagalan, keberhasilan, tawa, air mata, persahabatan, pertengkaran, jatuh cinta, patah hati, cinta satu malam, kerja keras, bermalasan, dimata-matai, memata matai, diselingkuhi, berbunga-bunga, sakit hati, diancam, ditipu, menipu, diperas, tersesat, kehidupan malam, sakit hati, pengajian, salah masuk musholla, shop till I drop, belajar mengaji, dan yang sering terjadi, dimanfaatkan.

Tapi dalam hati. Hati saya yang paling kecil. Ia berdoa.

Semoga setelah lulus nanti saya bisa pergi dari kota ini.

😀

Advertisements