Dalam pengertian kasar, cepat, dan sederhana dalam otak saya, ta`aruf berarti menikah tanpa proses pacaran. Bisa jadi kedua belah pihak belum saling mengenal sama sekali sebelumnya. Hanya berbekal proposal dan gambaran sepintas dari orang lain, lalu kalau sama-sama oke, DOR. Mereka menikah. Proposalnya tentu harus lengkap. Biodatanya tidak hanya berisi nama, alamat, nomor telepon, makanan, dan minuman favorit seperti yang kita buat waktu jaman SD… Juga harus dicantumkan secara detail mengenai sifat-sifat, kepribadian, kekurangan, dan kelebihan sang penulis proposal.

Sempat saya berpikir buat mengakhiri perjalanan cinta saya dengan cara ta`aruf. Daripada capek menjalin hubungan yang tidak dewasa dan tidak bertanggung jawab, pikir saya waktu itu.

Lalu saya melakukan simulasi.

Saya berkenalan dengan seorang temannya teman yang saya pernah bertemu tapi tidak kenalan. Dari omongan teman saya dan dilihat dari profile FBnya, pria tadi poinnya 8 lah. Mapan, sabar, family man, saleh, rapi, bijaksana, berkharisma, idealis, romantis, nasionalis, dan suka menulis. Is is is… Hahahaa… Tapi jujur saya bertekuk lutut padanya waktu itu. Perut saya terasa seperti kembang api tiap kali melihat fotonya. Kampungan sekali bukan?

Lalu akhirnya kami saling kirim e-mail. Di awal-awal saya masih terpesona. Tapi makin ke tengah saya makin jenuh. Memang dia pintar menjelaskan politik dengan bahasa yang lebih manusiawi, tapi rasanya bukan bangga lagi yang ada ketika dia bersemangat menuturkan ide-ide nasionalisnya. Dan kalau dulu saya memandang dengan takjub karena kata-kata bijaksananya, kini saya malah bosan. Sikap resminya pun jadi kelihatan kaku dan old fashioned di mata saya.

Intinya saya cuma mau mengetes apakah setelah mengenalnya nanti perut saya masih seperti kembang api atau malah tenang-tenang saja. Lalu saya mengandaikan, seandainya profil Facebook dan omongan teman saya itu adalah proposal ta`aruf yang dia berikan (meskipun tidak mungkin juga sih!) dan saya langsung main tabrak setuju untuk menikah dengannya tanpa mengenalnya secara intensif lebih dulu. Apa yang terjadi?

Saya pikir pacaran itu juga masih perlu. Selama tidak aneh-aneh, selama dilakukan dengan bertanggungjawab, tidak lebay, tidak mengganggu orang di sekitar, dan yang lebih penting memiliki visi dan misi yang jelas seperti kampanye pencalonan ketua BEM. Toh jodoh juga sudah ada yang mengatur.

P.S. Bagi panitia pengatur jodoh saya, diharapkan untuk segera mengirimkan jodoh saya paling lambat dalam waktu 2×24 jam. Dalam boks yang dibungkus kertas kado biru muda dan pita pink.

Advertisements