“Women are the harshest critics of other women. There needs to be a greater acceptance individually and collectively or nothing’s ever going to change. You’ll never be thin enough, blonde enough, black enough. So enough is enough.” – Joy Bryant for Harpers Bazaar

Sejak lahir sampai dewasa tubuh saya kurus seperti lidi. Tidak cuma saya, tapi adik-adik saya juga. Dalam perjalanan hidup saya, saya jadi menggemari berada dalam packing tubuh kurus. Tidak mudah jadi kurus dan tinggi. Waktu kecil saya selalu bermasalah dengan celana panjang. Kalau pinggangnya muat, pasti panjangnya kurang. Sampai dengan SMA saya masih berkutat dengan masalah itu. Dengan atasan saya juga kadang bermasalah. Kalau beli baju ukuran kecil, pasti perutnya kelihatan waktu membungkuk. Belum lagi kalau diolok kanan kiri gara-gara tinggi yang tidak wajar melebihi cewek-cewek lain, dibilang tiang listrik, kurang gizi, blab blab blab.. 😦

Tapi itu dulu waktu usia saya masih labil. Sekarang saya jadi menggemari jadi orang kurus. Belum sampai taraf obsesif tapi. Ada seseorang yang bisa membuka mata saya kalau menjadi kurus, tinggi, dan rata itu tidak selamanya jelek. Kalau dulu saya berusaha menggemukkan badan, sekarang saya malah sensi kalau ada orang yang berkata saya tambah gemuk. Kalau dulu saya mencibir pada orang yang diet, sekarang saya malah coba-coba.

Ya saya kadang diet. Orang-orang yang sekarang balik mencibiri saya. Kata mereka badan saya sudah kurus. Kata mereka badan saya sudah ideal. Ada yang bilang kalau diet cuma dilakukan oleh orang-orang yang nggak punya otak, nggak percaya diri, dan nggak bersyukur dengan apa yang Tuhan beri. Bahkan ada yang berkata kalau tidak ada pria yang suka melihat tubuh wanita yang kurus.

Statement yang terakhir bikin saya sedikit nyolot.

Orang-orang yang melihat saya selalu menyisihkan lemak yang menempel di ayam selalu mengatai saya. Kalau saya menyisihkan kulit ayam yang tidak digoreng, mereka mencibir. Ketika saya menolak makan malam mereka pasti langsung pasang muka ngambek.

Lantas saya berusaha mencari jawaban mengapa saya berdiet kadang-kadang. Setengah mencari pembenaran terhadap tindakan saya juga sih…

Pertama. Saya hanya setengah berdiet. Mengontrol makan istilahnya. Saya punya masalah pengumpulan lemak di paha atas dan perut. Apakah saya harus menunggu paha dan perut saya besar seperti balon baru kemudian saya berusaha berdiet? Celana saya ukuran M-L sekarang. Apa saya harus tunggu jadi XL baru kemudian mengurangi makan?

Kedua. Saya punya masalah buang air besar. Dari dulu saya pupup 3-5 hari sekali. Jadi wajar kan kalau saya membatasi makan karena saya tidak mau membiarkan perut saya diisi sampah 3 hari yang lalu? Satu lagi, perut saya akan terlihat besar kerena jarang ke belakang. Jadi wajar juga kan kalau saya membatasi makan sehingga perut saya tidak membengkak terlalu besar karena berisi pupup?

Ketiga. Saya memang tumbuh di keluarga yang menjaga makanan. Kakek saya pernah menjalani operasi bypass dan ayah saya memiliki penyakit jantung. Karenanya ibu saya selalu mengurangi lemak ekstra yang terdapat di ayam atau sapi. Dan karena saya sering membersihkan ayam mentah untuk dimasak, saya jadi tahu bagaimana bentuk lemak ketika mentah, baunya, teksturnya… dan kadang membuat saya mual untuk memakannya. Dan lagi ibu saya pernah diceritai kalau ayam potong disuntik di bawah kulitnya. Jadi saya tahu diri untuk tidak makan kulit ayam terlalu banyak.

Keempat. Saya memang tidak suka melihat diri saya menggemuk. Saya tidak punya masalah dengan orang gemuk. Saya tidak pernah mengkritik secara frontal lemak yang menggantung-gantung di tubuh mereka. Dan seingat saya, saya tidak pernah mengatai orang gemuk yang terus-terusan makan dan ngemil. Dan kalaupun saya menyuruh orang lain untuk berdiet, itu hanya bercanda, dan itupun saya katakan kalau ada orang lain yang sedang bercanda serupa juga.

Kelima. Sungguh saya tidak bohong. Di tahun 2010 ini masih ada pria yang melihat seseorang dari bentuk tubuhnya. Meskipun yang mengaku melirik saya pertama kali karena saya kurus-tinggi-langsing tidak banyak. Tapi tetap saja ada. Dan kalau dulu ada yang pernah mengatai saya tidak menarik karena saya cenderung rata karena tidak punya dada, saya cuma bisa tersenyum. Dear, I have boobs. Somewhere in my chest… Hahahaa… o.0

Keenam. Bagi yang mengenal saya hanya secara superfisial, saya beritahu ya… Saya makan lebih banyak daripada teman-teman wanita saya. Saya sangat jarang menyisakan makanan di piring saya kecuali kalau saya sedang benar-benar tidak berselera. Saya cepat lapar. Saya sangat suka makan gorengan. Dan saya makan cepat sekali.

Jadi setelah membaca tulisan di atas masihkah ada yang mau mengkritik pola diet saya? Diet maupun tidak, kurus atau tidak, itu pilihan masing-masing orang. Toh masih banyak orang yang kepingin berada dalam kemasan tubuh kurus. Jadi apa salahnya kalau saya me-maintain apa yang Tuhan beri kepada saya? 😀

Advertisements